Menjadi Generasi Cerdas  di Tengah  Era Kecerdasan Mesin Pencari

 

Segala sesuatu itu  ada ilmuya, begitu pula ketika kita melakukan segala hal dalam kehidupan sehari-hari. Sudah menjadi hal yang lumrah jika setiap kali kita mendapati suatu hal yang tidak ketahui akan berujung untuk mengunjungi halaman mesin pencari google.com sebagai solusinya. Tetapi, sadarkah kita jika semakin lama ketergantungan kita untuk berpikir praktis dan kemudahan mendapatkan informasi  dapat menjadi bencana tersendiri bagi kehidupan apabila tidak disikapi dengan cermat dan bijaksana.

Mengapa demikian?

Kedatangan  gempuran inovasi teknologi  informasi tanpa dihadapi  dengan sikap proaktif dari diri kita sendiri akan menjadi momok yang menyebabkan lesunya minat baca masyarakat. Umumnya perilaku masyarakat ketika mencari informasi di internet adalah dengan serta merta menyerap informasi tanpa melihat duduk perkara benar atau salahnya,Yang rentan menjadi korban utama dalam bencana arus teknologi informasi paperless ini adalah  para pelajar.  Bukanlah cerita lama jika dalam suatu ujian ataupun  soal suatu  mata pelajaran  yang kurang dimengerti  seorang pelajar akan serta merta langsung membuka smartphone  dan melakukan browsing  tanpa melihat validitas sumbernya. Hal tersebut sangat mengkhawatirkan untuk kelangsungan  proses menyerap dan menerima informasi dalam pembelajaran terlebih jika informasi dari internet tersebut  dijadikan rujukan utama, yang perlu dirisaukan adalah bagaimana lalu nasib kecerdasan intelektual  generasi kita mendatang?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan UNICEF mengungkap bahwasanya 98 persen dari anak-anak dan remaja yang disurvei tahu tentang internet dan bahwa 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet. Penggunaan media sosial dan digital menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia (Kominfo, CS;204; Riset Kominfo dan Unicef Mengenai Perilaku Anak dan Remaja Dalam Menggunakan Internet; diakses tanggal 6 Juni 2018)

Bagaimana jadinya jika dua puluh tahun ke depan generasi muda Indonesia selalu mengandalkan mesin pencari dalam menyelesaikan berbagai  permasalahan kehidupan dan menyerah pada kemampuan dan kecerdasan intelektual pribadinya sendiri ?

Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya proaktif untuk mengimbangi gempuran arus teknologi informasi yaitu dengan meningkatkan minat baca tidak hanya dari sumber digital akan tetapi juga dari sumber tertulis seperti buku-buku yang lebih terjamin originalitas dan sumbernya.  Mari mewujudkan Indonesia yang lebih baik !

 

Leave a Reply